Perubahan Nama Program Studi Menjadi Program Studi Teknik Industri Pertanian

Dasar Pertimbangan

  1. UU No. 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi, dan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-DIKTI) dalam Permenristekdikti No. 44/2015
  2. Statuta IPB dan RJP IPB 2019-2045
  3. Standar Internasional Pendidikan Keteknikan IEA (International Engineering Alliance), ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology), IABEE (Indonesia Accreditation Board for Engineering Education)
  4. Kebutuhan pemangku kepentingan Departemen TIN akan sarjana yang memiliki kemampuan keteknikan dalam agroindustri
  5. Konsekuensi implementasi UU No. 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran terhadap peran, tanggungjawab dan status profesi insinyur, khususnya dalam bidang industri pertanian
  6. Keputusan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi No. 257 Tahun 2017 tentang Nama Program Studi pada Perguruan Tinggi, dan Permenristekdikti No. 33/2018 tentang Penamaan Program Studi Pada Perguruan Tinggi.

Pertimbangan 1:  UU No. 12/2012 dan SN DIKTI

  • Sesuai dengan Amanat UU No. 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi, Kurikulum Pendidikan Tinggi dikembangkan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN Dikti) untuk setiap Program Studi yang mencakup pengembangan kecerdasan intelektual, akhlak mulia, dan keterampilan.
  • SN Dikti mengatur penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia, dan wajib diikuti oleh setiap perguruan tinggi di Iondonesia
  • SN Dikti menjadi acuan dalam menyusun, menyelenggarakan, dan mengevaluasi kurikulum Pendidikan Tinggi

Pertimbangan 2: Statuta IPB dan RJP IPB 2019-2045

  • Nilai dan etika yang dianut IPB yang senantiasa berorientasi ke arah masa depan.
  • IPB diselenggarakan dengan tujuan memberikan solusi terhadap permasalahan nasional dan global dalam bidang pertanian dalam arti luas.
  • IPB memiliki fungsi sebagai sumber inovasi dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi pertanian nasional.
  • Keteknikan (engineering) merupakan bidang ilmu yang perlu dikembangkan di IPB untuk menjawab tantangan kebutuhan stakeholders, sesuai RJP IPB 2019-2045.

Pertimbangan 3: Standar Internasional Pendidikan

  • Departemen TIN saat ini telah menjalankan program pendidikan keteknikan sesuai standar international pendidikan keteknikan dan telah terakreditasi oleh ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology) – Amerika Serikat
  • Penamaan Program Studi perlu mempertimbangkan standar profesi keinsinyuran yang berlaku internasional, yang membedakan 3 kelompok profesi dengan peran dan tanggung jawab yang berbeda:
    • Insinyur (engineer), lama studi 4-5 tahun
    • Teknologis (technologist), lama studi 3-4 tahun
    • Teknisi (technician), lama studi 2 tahun
Sumber : Chesier (1998)

Program Studi Teknik Industri Pertanian (sebelumnya Program Studi Teknologi Industri Pertanian), dikenal dengan singkatan TIN, selama ini telah dirancang untuk menghasilkan lulusan dengan proporsi yang lebih besar pada spetrum kegiatan keinsinyuran, yaitu penelitian, perancangan, pengembangan produk, proses dan sistem, serta produksi/manufaktur.

Kurikulum TIN selama ini memenuhi standar internasional kurikulum keteknikan (Indonesia Accreditation Board for Engineering Education/IABEE), dengan Muatan MIPA (23%), Pendidikan umum (15%), Keteknikan/Engineering (62%)

Pertimbangan 4: Kebutuhan Pemangku Kepentingan

  • Para pemangku kepentingan menginginkan lulusan Departemen TIN memiliki kemampuan:
    • Perancangan, pengembangan, dan pengelolaan untuk meningkatkan kinerja agroindustri
    • Softskill yang diperlukan di dunia kerja: kemampuan belajar sepanjang hayat, kreativitas, kerjasama, penyelesaian masalah, komunikasi tertulis dan lisan, komitmen profesional, dan technopreneuship
  • Kemampuan tersebut merupakan ranah keteknikan dan basis untuk pengembangan karir seorang insinyur.

Pertimbangan 5: Kebutuhan Profesi Insinyur

  • UU No. 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran, Agroindustri merupakan salah satu lingkup kegiatan keinsinyuran
  • Dengan demikian, salah satu bentuk tanggung jawab PS TIN adalah penyediaan SDM dalam profesi keinsinyuran di bidang agroindustri
  • Tantangan SDM Profesi Keinsinyuran Agroindustri, meliputi:
    • Jumlah SDM belum memadai:
      • Defisit 15.000 orang insinyur per tahun (Studi PII, 2011)
      • PII memproyeksikan kebutuhan insinyur teknologi industri pertanian untuk MP3EI Koridor Ekonomi khususnya bidang pangan sebesar 4.438 orang pada 2015, 6.968 orang pada 2020 dan 10.040 di 2025.
      • Untuk pendidikan tinggi dan penelitian, kebutuhan insinyur teknologi industri pertanian adalah 588 orang pada 2015, 922 orang pada 2020, dan 1.750 orang pada 2026.
    • Peningkatan kualitas SDM di tingkat nasional dan internasional utamanya dalam era mobilitas tenaga kerja (Luekitinan, 2014; Fukunaga, 2015).

Pertimbangan 6: Rumpun Keilmuan dan Gelar

  • Menurut Kepmenristekdikti No. 257 Tahun 2017, Program Studi Teknologi Industri Pertanian atau PS Teknik Industri Pertanian masuk dalam:
    • Rumpun Ilmu Terapan (Profession and Applied Science)
    • Sub rumpun Ilmu Teknik atau Rekayasa (Engineering).
  • Gelar untuk sarjana PS Teknologi Industri Pertanian maupun Teknik Industri Pertanian
    • Sarjana Teknik, (S1)
    • Magister Teknik, (S2)
    • Doktor, (S3)
  • Permenristekdikti No. 59/2018 mengatur tentang pemberian Gelar di Perguruan Tinggi, Misalnya untuk Lulusan Jenjang Sarjana, ditulis di belakang nama lulusan program sarjana (S1) dengan mencantumkan huruf “S.” dan diikuti dengan inisial pohon dalam rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi atau inisial nama program studi.
  • Dengan demikian, Program Studi TIN merupakan program pendidikan keteknikan, sehingga nama PS yang lebih konsisten adalah Program Studi Teknik Industri Pertanian
  • Permenristekdikti No. 33/2018 tentang Penamaan Program Studi Pada Perguruan Tinggi menguatkan penyesuaian nama program studi ini, dimana:
  • Program Studi pada perguruan tinggi disusun dan ditetapkan sesuai dengan rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi (lihat Gambar di bawah).
  • Penamaan Program Studi sesuai dengan rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah diakui oleh masyarakat ilmiah yang relevan dan asosiasi atau organisasi profesi yang kredibel;
  • Penyesuaian nama Program Studi tidak mengubah status akreditasi Program Studi.
  • Perguruan tinggi negeri badan hukum dapat menetapkan nama Program Studi dan melaporkan kepada Menteri.

Penyesuaian Nama Program Studi

  • Nama Departemen : Departemen Teknologi Industri Pertanian(Nama Departemen tidak diubah untuk mengantisipasi pengembangan/penamabahan Program Studi)
  • Nama Program Studi Teknologi Industri Pertanian disesuaikan menjadi Program Studi Teknik Industri Pertanian untuk jenjang S1, S2 dan S3.
Jenjang Program Studi Gelar
Sarjana (S1) Teknik Industri Pertanian Sarjana Teknik (ST)
Magister (S2) Teknik Industri Pertanian Magister Teknik (MT)
Doktor (S3) Teknik Industri Pertanian Doktor (Dr)

Implikasi

Penyesuaian Nama Program Studi berimplikasi pada penyesuaian-penyesuan, terutama dalam kurikulum program studi dan penyelenggaraannya, baik jenjang sarjana maupun pascasarjana.

Penyesuaian pada Kurikulum Program Sarjana (S1)

  • Formulasi Profil Profesional Mandiri dan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) Program Studi Teknik Industri Pertanian IPB melalui penajaman formulasi Profil Profesional Mandiri dan CPL kurikulum 2014 sesuai dengan kualifikasi sarjana keteknikan dan dengan mempertahankan ciri khusus PS TIN IPB.
  • Penguatan struktur kurikulum dan penajaman muatan-muatan keteknikan industri pertanian pada mata kuliah, guna menguatkan kemampuan pemecahan masalah (problem solving)
  • Pengintegrasian mata kuliah KKN Tematik, yang diwajibkan oleh IPB, agar menunjang pencapaian pembelajaran lulusan PS TIN
  • Penyesuaian struktur kurikulum dengan memasukkan mata kuliah pilihan sebagai implikasi dari diwajibkannya mata kuliah KKN Tematik, masukan dari asesor eksternal (BAN PT), dan memfasilitasi kebutuhan mahasiswa untuk mengembangkan minatnya
  • Penajaman kemampuan integrasi yang merupakan ciri penting pendidikan keteknikan industri pertanian melalui mata kuliah-mata kuliah capstone dan tugas akhir
  • Penguatan desain tugas akhir mahasiswa TIN dengan menyediakan beberapa alternatif jalur penyelesaian tugas akhir, yaitu: penelitian, kerjasama industri, kerjasama masyarakat, dan program payung (technopreneurship)

Penyesuaian pada Kurikulum Program Pascasarjana (S2 & S3)

  • Formulasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) Program Studi Pascasarjana Teknik Industri Pertanian IPB sesuai dengan kualifikasi Magister dan Doktor keteknikan dan dengan mempertahankan ciri khusus bidang Industri Pertanian.
  • Pendalaman dan penajaman Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) untuk memenuhi CPL Magister Teknik dan Doktor Teknik.
  • Pendalaman dan penajaman muatan-muatan keteknikan industri pertanian pada mata kuliah wajib dan pilihan untuk memenuhi CPMK yang ditetapkan.

Aspek Legalitas

  • Kepastian keputusan institusi tentang penyesuaian nama Program Studi diberikan pada tahun 2018 melalui:
    • SK Senat Akademik IPB No. 112/SA-IPB/K/2018 tentang Persetujuan Perubahan Nama Program Studi Teknologi Industri Pertanian menjadi Program Studi Teknik Industri Pertanian pada Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor
    • SK Rektor IPB No. 368/IT3/PP/2018 Tanggal 15 November 2018 tentang Perubahan Nama Program Studi Teknologi Industri Pertanian menjadi Program Studi Teknik Industri Pertanian pada Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor
  • Dukungan institusi ini diberikan dengan mengingat PS TIN IPB merupakan program studi di bidang industri pertanian pertama di Indonesia dan menjadi rujukan bagi program studi industri pertanian lainnya
  • Penyesuaian Nama Program Studi menjadi Program Studi Teknik Industri Pertanian dengan Kurikulum 2018 sebagai implikasi dari penyesuaian nama ini dapat mulai diimplementasikan pada mahasiswa tahun masuk 2017/2018 untuk Program Sarjana (S1) dan 2018/2019 untuk Program Pascasarjana (S2 dan S3) melalui proses phasing out

Bogor, 18 Februari 2019

Ketua Departemen