Bogor, Indonesia | +62 811-1187-812 | tin@apps.ipb.ac.id

IPB Dorong Produk Lokal Desa Dolokgede Tembus Pasar Ekspor Melalui Inovasi Pangan dan Kemasan Berkelanjutan Melalui Program Dosen Pulang Kampung 2025

WhatsApp Image 2025-07-07 at 14.22.20
News

IPB Dorong Produk Lokal Desa Dolokgede Tembus Pasar Ekspor Melalui Inovasi Pangan dan Kemasan Berkelanjutan Melalui Program Dosen Pulang Kampung 2025

Oleh Tim Dosen Pulang Kampung IPB 2025

IPB University meluncurkan program Dosen Pulang Kampung 2025 yang merupakan bagian dari inisiatif IPB untuk mengajak para dosen kembali ke daerah asalnya untuk berbagi ilmu, pengalaman, dan inovasi demi kemajuan kampung halaman. Program ini menjadi salah satu bentuk nyata implementasi Tridharma Perguruan Tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat, dengan menggabungkan kearifan lokal dan kemajuan teknologi. Tim program yang terdiri dari Prof. Dr. Endang Warsiki, S.TP.,  MSi, Prof. Dr. Chusnul Arif, S.TP, MSi, Brilliant Cahya Puspasari, S.Tr.   Kes., M. Biomed dan Fithriya Yulisiasih Rohmawati, S.Si., MSi bekerja sama dengan bersama dengan Ademos (Asosiasi Demokrasi dan Sosial) Indonesia (https://ademosindonesia.or.id) dan PT Thara Jaya Niaga (https://www.tharajayaniagaholding.com) bersinergi untuk mendorong transformasi produk lokal di Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro agar dapat menuju pasar global. Program ini diberi tajuk Transformasi Produk Lokal Desa Dolokgede Kabupaten Bojonegoro Menuju Pasar Ekspor Melalui Sekolah Inovasi Pangan dan Kemasan Berkelanjutan. Kegiatan ini bertujuan untuk menyasar masyarakat, pelaku UMKM, dan petani setempat untuk mendapatkan edukasi dan pelatihan terkait inovasi pangan, teknologi kemasan berkelanjutan, serta strategi pemenuhan standar ekspor di Desa Dolokgede, Bojonegoro.

Kegiatan pertama yang dilakukan adalah pertemuan antara Tim IPB dengan UMKM diantaranya adalah Kriik Mangprang (https://kripikmangprang.com), Raflesia Emping Gerut (https://shopee.co.id/tokoraflesia), Herbasina Nutrindo (

), Ledre Sang Raja, dan  Minuman Herbal PT Jenogoro Food. Dalam beberapa diskusi terungkap bawah banyak permasalahan yang dihadapi oleh para pelaku UMKM tersebut. PT Herbasina Nutrindo, misalnya masih kesulitan untuk men

dapatkan ijin BPOM sehingga perlu pendampingan. Demikian juga kemasan perlu di-redisain agar kemasan dapat memenuhi sebagai fungsi struktur, grafis dan pormosi/informasi. Ledre Raja Pisang mengalami kesulitan dalam disbribusi, dengan permintaan yang tersebar mulai dari Bojonegoro, Ngawi Madiun dan sekitarnya sampai Malang, membuat pelaku usaha ini kelabakan dalam mengatur jadwal produksi dan distribusi. Kripik Garut Raflesia mengalami kesulitan bahan baku, mengingat Gerut masih merupakan tamanan liar yang belum dibudidayakan oleh masyarakat. Sejuah ini, ketika musim tanam sudah selesai, sambil menuggu musin panen, masyarakat pergi ke hutan untuk mencari umbi Gerut yang kemudian diolah menjadi kripik kering. Dengan demikian ada kalanya stok umbi melimpah sehingga harus dikeringkan menjadi kripik dan ada kalanya stok sedikit karena tidak ada umbi. Tantangannya adalah diperlukan ruangan penyimpanan atau gudang yang memadai yang dapat menampung seluruh produksi dikala musim gerut.  Seperti diketahui, walapun kripik gerut, walaupun sudah dikeringkan, masih rentan terhadap serangan kutu dan tengik karena kondisi ruang penyimpan yang lembab. Minuman herbal Sheenom, BeeRush, Kunyit Asem produksi PT Jenogorofood mengahapi permasalahan yang berbeda. Produk minuman dalam botol ini tidak tahan lama yang menyebabkan distribusi minuman ini hanya terbatas pada pasar lokal. Pengemasan aseptis misalnya dengan hot filling atau retord adalah solusi yang dapat di

tawarkan, namun demikian tentunya diperlukan bantuan pemodalan dan pemahakan yang baik atas teknologi pengemasan yang tepat untuk produk ini.

Kegiatan selanjutnya adalah pelaksanaan pelatihan interaktif, konsultasi bisnis, dan business matching dengan eksportir PT Artha Niaga yang akan dilaksanaan di Bulan Oktober 2025. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, diharapkan produk lokal Dolokgede dapat memenuhi kebutuhan pasar internasional, baik dari segi kualitas, desain kemasan, maupun keberlanjutan proses produksi. Program ini merupakan langkah nyata untuk meningkatkan daya saing dan memperluas pasar produk lokal. Dengan inovasi pangan dan kemasan yang tepat, kami yakin Dolokgede bisa menjadi contoh sukses desa yang menembus pasar global.

Dolokgede, Bojonegoro – Juli, 2025